Sampurasun sadayana..
Salam warna warni, Katumbers ...
Setelah sebelumnya Katumbiri memposting artikel yang pertama seputar Gangguan Tidur (Sleep Disorder), untuk postingan selanjutnya, penulis mau merubah nama panggilan untuk penulis 'nih. Rasanya kurang coocok yaa kalau dipanggil Katumbiri. So, mulai sekarang panggilan penulis cukup Mbi atau Neng Mbi aja yaa. Okay, kita lanjutkan artikelnya..
Katumbers, pasti kalian sering lihat 'kan berita di televisi maupun media pemberitaan online tentang maraknya kasus kekerasan atau disebut juga bullying yang pelaku dan korbannya adalah anak-anak di bawah umur. Mbi sangat miris kalau mendengar kejadian seperti itu. Anak-anak yang seharusnya masih polos dan mengisi waktunya hanya untuk bermain serta belajar justru berubah menjadi "monster" menakutkan yang sampai mampu menghilangkan nyawa sesamanya. Merinding yaa.
Bukan hanya itu, hal yang baru-baru ini terjadi mengenai kasus kekerasan seksual dan pembunuhan sadis yang menimpa saudara kita almh. Yuyun sangat amat memilukan hati semua orang. Yang membuat Mbi semakin prihatin adalah dibalik kesadisan yang melampaui batas itu ternyata beberapa diantara pelaku adalah anak di bawah umur. Anak yang begitu manis, rajin dan berprestasi, hidupnya harus berakhir dengan tragis di tangan anak seumurannya yang seharusnya sedang menikmati indahnya masa sekolah, bermain dan berkreasi mengembangkan bakatnya. Dan masih banyak lagi kasus kekerasan yang terjadi di kalangan anak-anak. Sangat menyedihkan.
Dari banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan anak di bawah umur, membuat Mbi ingin tahu sebenarnya apa saja faktor yang menyebabkan anak-anak menjadi sekejam itu? Seringkali sebagai orang tua, kita lebih mengkhawatirkan anak kita menjadi korban bullying. Padahal anak kita bukan hanya berpotensi menjadi korban tapi juga berpotensi menjadi pelaku. Tidak mau juga 'kan kalau anak kita menjadi pelaku kekerasan? Maka dari itu, kita perlu tahu apa saja faktor yang menyebabkan anak melakukan kekerasan.
Bukan hanya itu, hal yang baru-baru ini terjadi mengenai kasus kekerasan seksual dan pembunuhan sadis yang menimpa saudara kita almh. Yuyun sangat amat memilukan hati semua orang. Yang membuat Mbi semakin prihatin adalah dibalik kesadisan yang melampaui batas itu ternyata beberapa diantara pelaku adalah anak di bawah umur. Anak yang begitu manis, rajin dan berprestasi, hidupnya harus berakhir dengan tragis di tangan anak seumurannya yang seharusnya sedang menikmati indahnya masa sekolah, bermain dan berkreasi mengembangkan bakatnya. Dan masih banyak lagi kasus kekerasan yang terjadi di kalangan anak-anak. Sangat menyedihkan.
Dari banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan anak di bawah umur, membuat Mbi ingin tahu sebenarnya apa saja faktor yang menyebabkan anak-anak menjadi sekejam itu? Seringkali sebagai orang tua, kita lebih mengkhawatirkan anak kita menjadi korban bullying. Padahal anak kita bukan hanya berpotensi menjadi korban tapi juga berpotensi menjadi pelaku. Tidak mau juga 'kan kalau anak kita menjadi pelaku kekerasan? Maka dari itu, kita perlu tahu apa saja faktor yang menyebabkan anak melakukan kekerasan.
Dari beberapa sumber dan apa yang Mbi perhatikan di lingkungan sekitar, Mbi menyimpulkan beberapa faktor penyebab anak jadi pelaku bullying, yaitu :
1. Game dengan Adegan Kekerasan dan Seks
Wah, siapa sangka game selama ini dianggap sebagai hiburan dan sarana membangun kreatifitas anak tapi justru di dalamnya terdapat adegan yang dapat merusak mental dan moral anak kita. Mbi tahu faktor yang satu ini memang benar berpengaruh pada mental anak dari seorang anak usia 10 tahun yang memiliki riwayat beberapa kali melakukan kekerasan pada teman sebayanya. Setelah melakukan pendekatan, anak ini bercerita pada Mbi apa yang dia lihat di game favoritnya dan menurut dia permainan itu menampilkan adegan pembunuhan sadis yang menurutnya keren. Mbi cuma bisa mengelus dada, Mbi saja merinding mendengar cerita anak itu tentang game favoritnya. Mbi lebih kaget lagi saat melihat di beberapa artikel bahwa ada banyak game yang dimainkan anak di bawah umur menampilkan adegan kekerasan bahkan adegan seksual. Selama ini Mbi memang tidak tau perkembangan game jaman sekarang sudah sampai sejauh itu. Menurut banyak sumber, game dan beberapa media lainnya seperti tayangan televisi serta adegan dalam film mempengaruhi perilaku anak hingga 80%. Bahkan, Kemendikbud sudah menetapkan 15 game yang dinilai berbahaya untuk anak. Maka, kita sebagai orang dewasa harus lebih teliti mengawasi permainan dan hiburan apa saja yang dilihat oleh anak-anak atau saudara kita.
2. Kurang Perhatian Orang Tua
Untuk faktor yang satu ini cukup banyak pengaruhnya terhadap mental anak, salah satunya menyebabkan anak melakukan kekerasan untuk menarik perhatian orang lain. Sebagian anak justru merasa dengan melakukan kekerasan pada temannya akan membuat anak menjadi lebih dianggap memiliki peran dan berpengaruh di lingkungannya. Jika sudah begini, teguran dari guru maupun orang tua Mbi rasa kurang efektif bagi sebagian kasus karena menurut yang Mbi tahu, pada kenyataannya lingkungan sekitar justru kebanyakan memarahi atau menghukum anak dan membuat anak merasa semakin tertekan dan bisa melakukan hal yang lebih nekat lagi. Kurangnya perhatian orang tua sering dikaitkan dengan istilah broken home atau perceraian orang tua si anak. Benarkah? Menurut Mbi dari apa yang Mbi amati, yang salah bukanlah perceraian orang tua si anak melainkan ke"profesional"an orang tua dalam menjalankan perannya. Banyak juga anak yang memiliki orang tua yang utuh tapi kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, salah satu penyebabnya kebanyakan adalah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dan sebaliknya, anak yang orang tuanya mengalami perceraian justru bisa lebih bahagia karena orang tua mampu memberi pengertian terhadap anak mereka dan tetap profesional untuk urusan tanggung jawab terhadap anak. Selain itu kekerasan antara orang tua yang terjadi saat konflik sebelum perceraian itulah yang membuat anak meniru perilaku bullying. Jika sampai harus terjadi perceraian, yang dibutuhkan oleh anak adalah penjelasan yang tepat, kasih sayang, dan jangan menunjukkan konflik orang tua di hadapan anak.
3. Pernah Menjadi Korban
Jika seorang anak pernah menjadi korban, maka memiliki kecenderungan untuk membalaskan apa yang mereka alami. Dan tindakan yang mereka lakukan pun bisa jadi meniru atau bahkan lebih kejam dari pelaku yang dulu menyakitinya. Korban disini bukan hanya mereka yang menjadi korban bullying di luar rumah, tapi bisa jadi anak menjadi korban kekerasan di rumahnya sendiri. Yapp, orang tua kerap kali meluapkan emosinya dengan kekerasan kepada anak mereka. Entah dengan maksud mendidik atau memang kelepasan, tindak kekerasan dari orang tua pada anak akan berakibat sangat fatal untuk si anak. Karena pernah menjadi korban juga sebagian anak justru ingin menunjukkan pada sekitarnya bahwa dia bukanlah orang yang lemah dan mampu melakukan kekerasan juga terhadap orang lain. Apalagi jika anak mendapat tindak kekerasan dari orang tuanya sendiri, mereka akan menganggap kekerasan adalah hal yang wajar dilakukan. Lagi-lagi pengertian dari lingkungan sekitar sangat dibutuhkan.
4. Dikucilkan Oleh Lingkungan Sekitar
Seorang anak, bahkan orang dewasa pun memiliki naluri ingin diakui keberadaannya. Apalagi bagi seorang anak yang sedang dalam masa pencarian jati diri. Berbeda tipis dengan kurangnya perhatian, faktor ini mungkin saja lebih kompleks lagi. Mbi pernah mengamati langsung, seorang anak yang dikucilkan oleh lingkungannya, misalnya di sekolah apalagi dalam keluarga. Entah dikucilkan karena kekurangannya atau penyebab lain, yang jelas anak akan merasa keberadaannya tidak diinginkan oleh lingkungannya. Hal seperti ini bisa jadi membuat anak melakukan kekerasan pada temannya agar lingkungannya mengakui keberadaannya, anak juga bisa jadi ingin menunjukkan pemberontakan dalam dirinya dengan melakukan kekerasan agar lingkungannya tau dirinya tidak terima diperlakukan begitu (dikucilkan), bahkan mungkin anak ingin dianggap jagoan terutama pada anak laki-laki agar anak lebih diperhitungkan dalam pergaulannya.
Itulah beberapa faktor yang Mbi simpulkan sebagai penyebab anak melakukan tindak kekerasan. Jika kita dalami, intinya semua faktor tersebut berasal dari lingkungan yaa, Katumbers. Terutama keluarga, karena keluarga adalah sekolah pertama yang dijalani anak. Maka sebisa mungkin, hindari untuk berperilaku kasar di hadapan anak, apalagi melakukan kekerasan kepada anak-anak di sekitar anda. Mendidik anak itu bukan dengan kekerasan yaa Katumbers, tapi dengan pengertian dan kasih sayang.
Mari, mulai sekarang kita lebih memperhatikan anak kita dan bukan mengekang mereka tapi membimbing mereka. Kita tidak bisa menyamakan jalan pikiran anak dengan jalan pikiran kita, maka pahamilah dulu apa yang dirasakan oleh anak dan ajaklah anak untuk berdiskusi layaknya seorang sahabat. Semoga untuk ke depannya, tidak ada lagi kasus kekerasan terutama yang pelaku dan korbannya adalah anak di bawah umur.
Hatur nuhun, Katumbers.. ^^
Terima kasih sudah mampir di Catatan Katumbiri. ^^
1. Game dengan Adegan Kekerasan dan Seks
Wah, siapa sangka game selama ini dianggap sebagai hiburan dan sarana membangun kreatifitas anak tapi justru di dalamnya terdapat adegan yang dapat merusak mental dan moral anak kita. Mbi tahu faktor yang satu ini memang benar berpengaruh pada mental anak dari seorang anak usia 10 tahun yang memiliki riwayat beberapa kali melakukan kekerasan pada teman sebayanya. Setelah melakukan pendekatan, anak ini bercerita pada Mbi apa yang dia lihat di game favoritnya dan menurut dia permainan itu menampilkan adegan pembunuhan sadis yang menurutnya keren. Mbi cuma bisa mengelus dada, Mbi saja merinding mendengar cerita anak itu tentang game favoritnya. Mbi lebih kaget lagi saat melihat di beberapa artikel bahwa ada banyak game yang dimainkan anak di bawah umur menampilkan adegan kekerasan bahkan adegan seksual. Selama ini Mbi memang tidak tau perkembangan game jaman sekarang sudah sampai sejauh itu. Menurut banyak sumber, game dan beberapa media lainnya seperti tayangan televisi serta adegan dalam film mempengaruhi perilaku anak hingga 80%. Bahkan, Kemendikbud sudah menetapkan 15 game yang dinilai berbahaya untuk anak. Maka, kita sebagai orang dewasa harus lebih teliti mengawasi permainan dan hiburan apa saja yang dilihat oleh anak-anak atau saudara kita.
2. Kurang Perhatian Orang Tua
Untuk faktor yang satu ini cukup banyak pengaruhnya terhadap mental anak, salah satunya menyebabkan anak melakukan kekerasan untuk menarik perhatian orang lain. Sebagian anak justru merasa dengan melakukan kekerasan pada temannya akan membuat anak menjadi lebih dianggap memiliki peran dan berpengaruh di lingkungannya. Jika sudah begini, teguran dari guru maupun orang tua Mbi rasa kurang efektif bagi sebagian kasus karena menurut yang Mbi tahu, pada kenyataannya lingkungan sekitar justru kebanyakan memarahi atau menghukum anak dan membuat anak merasa semakin tertekan dan bisa melakukan hal yang lebih nekat lagi. Kurangnya perhatian orang tua sering dikaitkan dengan istilah broken home atau perceraian orang tua si anak. Benarkah? Menurut Mbi dari apa yang Mbi amati, yang salah bukanlah perceraian orang tua si anak melainkan ke"profesional"an orang tua dalam menjalankan perannya. Banyak juga anak yang memiliki orang tua yang utuh tapi kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, salah satu penyebabnya kebanyakan adalah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dan sebaliknya, anak yang orang tuanya mengalami perceraian justru bisa lebih bahagia karena orang tua mampu memberi pengertian terhadap anak mereka dan tetap profesional untuk urusan tanggung jawab terhadap anak. Selain itu kekerasan antara orang tua yang terjadi saat konflik sebelum perceraian itulah yang membuat anak meniru perilaku bullying. Jika sampai harus terjadi perceraian, yang dibutuhkan oleh anak adalah penjelasan yang tepat, kasih sayang, dan jangan menunjukkan konflik orang tua di hadapan anak.
3. Pernah Menjadi Korban
Jika seorang anak pernah menjadi korban, maka memiliki kecenderungan untuk membalaskan apa yang mereka alami. Dan tindakan yang mereka lakukan pun bisa jadi meniru atau bahkan lebih kejam dari pelaku yang dulu menyakitinya. Korban disini bukan hanya mereka yang menjadi korban bullying di luar rumah, tapi bisa jadi anak menjadi korban kekerasan di rumahnya sendiri. Yapp, orang tua kerap kali meluapkan emosinya dengan kekerasan kepada anak mereka. Entah dengan maksud mendidik atau memang kelepasan, tindak kekerasan dari orang tua pada anak akan berakibat sangat fatal untuk si anak. Karena pernah menjadi korban juga sebagian anak justru ingin menunjukkan pada sekitarnya bahwa dia bukanlah orang yang lemah dan mampu melakukan kekerasan juga terhadap orang lain. Apalagi jika anak mendapat tindak kekerasan dari orang tuanya sendiri, mereka akan menganggap kekerasan adalah hal yang wajar dilakukan. Lagi-lagi pengertian dari lingkungan sekitar sangat dibutuhkan.
4. Dikucilkan Oleh Lingkungan Sekitar
Seorang anak, bahkan orang dewasa pun memiliki naluri ingin diakui keberadaannya. Apalagi bagi seorang anak yang sedang dalam masa pencarian jati diri. Berbeda tipis dengan kurangnya perhatian, faktor ini mungkin saja lebih kompleks lagi. Mbi pernah mengamati langsung, seorang anak yang dikucilkan oleh lingkungannya, misalnya di sekolah apalagi dalam keluarga. Entah dikucilkan karena kekurangannya atau penyebab lain, yang jelas anak akan merasa keberadaannya tidak diinginkan oleh lingkungannya. Hal seperti ini bisa jadi membuat anak melakukan kekerasan pada temannya agar lingkungannya mengakui keberadaannya, anak juga bisa jadi ingin menunjukkan pemberontakan dalam dirinya dengan melakukan kekerasan agar lingkungannya tau dirinya tidak terima diperlakukan begitu (dikucilkan), bahkan mungkin anak ingin dianggap jagoan terutama pada anak laki-laki agar anak lebih diperhitungkan dalam pergaulannya.
Itulah beberapa faktor yang Mbi simpulkan sebagai penyebab anak melakukan tindak kekerasan. Jika kita dalami, intinya semua faktor tersebut berasal dari lingkungan yaa, Katumbers. Terutama keluarga, karena keluarga adalah sekolah pertama yang dijalani anak. Maka sebisa mungkin, hindari untuk berperilaku kasar di hadapan anak, apalagi melakukan kekerasan kepada anak-anak di sekitar anda. Mendidik anak itu bukan dengan kekerasan yaa Katumbers, tapi dengan pengertian dan kasih sayang.
Mari, mulai sekarang kita lebih memperhatikan anak kita dan bukan mengekang mereka tapi membimbing mereka. Kita tidak bisa menyamakan jalan pikiran anak dengan jalan pikiran kita, maka pahamilah dulu apa yang dirasakan oleh anak dan ajaklah anak untuk berdiskusi layaknya seorang sahabat. Semoga untuk ke depannya, tidak ada lagi kasus kekerasan terutama yang pelaku dan korbannya adalah anak di bawah umur.
Hatur nuhun, Katumbers.. ^^
Terima kasih sudah mampir di Catatan Katumbiri. ^^